Kamis, 17 Mei 2012

Perpindahan Kecepatan (Roda Gigi) MTB | Tips


Tips perpindahan roda gigi aku kutip dari blogs milik Asbrindo sepertinya layak dicoba untuk menutupi kekurangan yang ada.


Setiap biker memiliki kecepatan kayuhan masing – masing. Kecepatan kayuhan (cadence) yang ideal yang seharusnya dicari oleh masing – masing biker. Dengan cadence ideal, berarti tenaga yang kita salurkan untuk mengayuh sepeda dapat bertahan lama dan tidak cepat lelah. Dengan kata lain ideal cadence adalah kondisi sempurna di mana tenaga kita dapat seluruhnya tersalurkan untuk mengayuh sepeda. Cadence yang ideal sangat tergantung kepada kontur jalan, hambatan angin dan kondisi kesehatan kita sendiri pada suatu waktu.

Bagaimana mencapai cadence ideal? Hanya bisa dicapai dengan terus berlatih mencari rasio roda gigi depan dan belakang. Biker hanya bisa mendapatkan rasio gigi optimal pada setiap kondisi jalan dengan cara berlatih. Tidak ada rumus baku untuk hal ini. Kuncinya pada ketekunan dan kedisiplinan diri dalam berlatih.

Biker bisa memantau cadence dengan cyclometer yang memiliki fitur cadence. Kenaikan kemampuan cadence menunjukkan keberhasilan latihan anda. Faktanya, atlet – atlet sepeda yang langganan juara adalah mereka yang secara disiplin memperhatikan cadence ideal mereka.

Jika roda gigi terlalu tinggi (gigi kecil), kayuhan akan terasa berat sehingga cadence menurun. Mengayuh lebih lambat dibanding cadence ideal berakibat tenaga akan cepat terkuras dan berisiko cedera otot khususnya pada lutut dan pinggul (bahaya kan......).

Sedangkan jika roda gigi terlalu rendah (gigi besar), kayuhan akan terasa sangat ringan sehingga cadence menjadi terlalu cepat. Mengayuh lebih cepat dari cadence ideal menyebabkan tenaga terbuang percuma yang ujung ujungnya akan cepat lelah.

Gunakan gigi yang sama di jalan datar apabila anda bersiap memasuki tanjakan dengan kecepatan tinggi. Kemudian secara perlahan pindahkan ke gigi yang satu langkah lebih ringan setiap kali kayuhan terasa berat.

Gunakan gigi rendah (gigi besar) saat menapaki jalur pendakian tanpa persiapan speed yang cukup. kemudian pindahkan ke gigi yang lebih tinggi (gigi kecil) setiap memasuki bonus trek datar di mana tidak dibutuhkan kaki kayuhan yang konstan.

Sesaat sebelum mencapai puncak tanjakan, segera pindahkan gigi ke lebih tinggi. Pertahankan pada saat anda menuruni trek. Pada saat turun, anda akan lebih dituntut untuk konsentrasi ke rem dibandingkan sifter.

Untuk medan yang lebih bervariasi, pertahankan gigi depan di posisi tengah. Pergunakan variasi roda gigi belakang untuk menghadapi perpindahan medan yang sangat cepat.

Kalau menurut beberapa teman, yang penting dengkulnya, tetapi kalau menurut aku selain dengkul harus didimbangi dengan teknik dan groupset yang handal.

Semoga bermanfaat

Salam biker

The ONE | Sekilas Info

Berawal dari  obrolan iseng antara aku, Kuswanto (Kus Shimano) dan Murdoko (Wakiyo) saat cangkrukan, akhirnya mengarah kepada topik sepeda. Saat itu aku baru beberapa minggu membeli sepeda Polygon Premier 3.0 dan sering aku gunakan untuk alat transportasi dari rumah ke kantor yang berjarak 7 km (14 km pergi pulang), Jarak yang “lumayan” bagiku setelah kurang lebih 10 tahun tidak pernah merasakan mengayuh pedal sepeda.
 
Kami bertiga akhirnya mempunyai keinginan yang sama, yaitu mengenalkan dan menggunakan kembali sepeda sebagai alat transportasi yang juga sekaligus sebagai media berolahraga dan sarana mempererat hubungan antar karyawan di kantor tempat kami bekerja. Karena selama ini, teman teman ditempat kami bekerja semakin hari semakin mengandalkan kendaraaan bermesin sebagai alat transportasi ketempat kerja.

Atas ‘keisengan” kami, akhirnya kami memutuskan untuk membuat club sepeda, yang awalnya kami sendiri ragu akan bisa diterima oleh teman teman sekantor apalagi mau ngonthel. Tetapi hal iti tidak menjadi halangan bagi kami bertiga untuk tetap membuat club, toh meskipun nantinya “tetap” hanya kami bertiga yang menjadi anggota.

Beberapa hari setelah hari itu, di rumah, menggunakan PC yang berusia setengah umur dan menggunakan USB modem yang leletnya minta ampun (rumahku ada di pinggiran, yang jauh dari jaringan internet kabel, jadi mau tidak mau kalau ingin browsing menggunakan PC dirumah ya satu satunya jalan memakai USB modem itu), aku coba browsing untuk mencari tahu tentang sepeda dan club sepeda.

Tak lupa sambil menunggu loading internet, aku mencoba mengarang nama club sepeda yang sekiranya mudah diingat dan sesuai dengan harapan kami.

Setelah ada beberapa nama dan beberapa sket gambar, aku simpan di handphone yang juga sudah lumayan kusam (tapi meski seri agak jadul, tp sudah ada memory externalnya lho… apalagi hasil foto kameranya, wowwwww……gak kalah jauh dengan hasil kamera saku, ya…..kira kira kalau kamera saku mendapat nilai 10, hasil foto dari handphone ku ada di kisaran nilai 3 gitu, gak jauh amat kan….). Juga aku simpan soft copy nya di flashdisc berkapasitas 1 terabite….. eh…maaf, 1 Gigabite, (sengaja) salah tulis, biar keliatan wow…..) untuk aku printkan direntalan komputer (sebenarnya aku sendiri punya printer, tapi cardride nya dah aus, malas mau mengganti, akhirnya aku “hibahkan” kepada Siti, tetangga kamar, siapa tau berguna (Siti=si tikus, tetangga kamar=aku dikamar tidur sedang tikusnya ada di gudang, aku “terpaksa” hibahkan=mau gimana lagi, maksud hati menyimpan printer digudang, eeee……..malah di hancurkan oleh Siti).

Esoknya setelah dari rentalan computer untuk ngeprint, aku nemui Kus dan Wakiyo. Aku tunjukin beberapa hasil karyaku kepada mereka. Dari beberapa skets yang aku buat, mereka memilih nama THE ONE yang secara harfiah berarti satu, satu keinginan, satu tujuan, satu rasa dan bersatu padu dalam mencapai visi misi, (I like either), yang kalau di panjangkan bacanya Theeeeeeeeee…………wwwaaaaaaaaaaaaaaaaa…………..nnnnnnnnnnnnn…………., bercanda lagi…….., maksudku, THE ONE itu merupakan singkatan dari The Onthel Nganjuk Environment (agak janggal memang, tapi yang mendekati dengan kemudahan dan mendekati dengan visi misi kami, ya….nama itu……)

Akhirnya tepat tanggal 9 September 2010, lahirlah club sepeda yang saat itu anggota resminya berjumlah….1……2……3……4……5….6…..7….8….. (sebentar sebentar……, sabar……., aku hitung dulu….., nah akhirnya ketemu juga jumlah pastinya), maaf jika ngitungnya agak lama, karena jumlah anggota resminya lumayan banyak, yaitu 3 orang (orangnya ya yang itu tadi). Tapi Alhamdulillah, karena dengan niat kami yang baik, semakin hari semakin banyak teman yang bergabung, tidak hanya dari teman sekantor, tetapi juga dari luar kantor.

Semoga saja apa yang kami rintis ini semakin mendapat dukungan dari banyak pihak sehingga visi misi kami bisa tercapai. Amin.


Salam biker

Test Ban Maxxis Ardent | Arsip

Besok merupakan salah satu hari yang aku tunggu, bukan ada apa apa, hanya ingin mengetahui kemampuan si Extry setelah ganti sepatu baru (meski sepatu yang baru hanya sebelah, tapi meski sebelah dah lumayan bikin isi kantong berkurang, heheheheeee…..). Setelah sekian lama si Extry setia dengan sepatu Kenda Koyote, aku rasa saatnya mengganti dengan sepatu rasa baru yang belum pernah “terbeli”, iseng iseng biar beda ama si Premy yang masih saja setia dengan sepasang sepatu Kenda Koyote.
 
Sepatu baru si Extry baru aku beli kemaren. Setelah mencari beberapa literatur, terutama jenis dan merk sepatu yang “lumayan” cocok untuk semua kondisi, mulai sekedar  B2W, up hill, off road sedang sampai downhill ringan dan rencananya aku pasang di kaki belakang, akhirnya pilihan jatuh pada merk Maxxis dengan seri Ardent. Karena sepatu si Extry yang sebelah aku rasa masih “layak pakai”, maka sepatu yang dulu dibelakang, merk CST seri Caballero, aku pindah ke depan menggusur Kenda Koyote yang sudah distempel “nama” salah satu temen satu club (inilah salah satu keuntungan punya banyak temen, jangan sampai ada part yang terbuang ke tempat sampah, jika masih bisa di recycle, kan selaras dengan visi misi The ONE, Sehatkan Diri, Selamatkan Bumi).



Pulang dari toko mampir sebentar ke rumah temen teknisi club, untuk meminjam alat ganti ban, karena rencana aku sendiri yang akan memasangkan sepatu nya si Extry, maklum, dengan waktu yang mepet tidak ada waktu lebih lagi untuk mengajak jalan jalan si Extry ke bengkel untuk sekedar ganti sepatu.

Sampai dirumah, setelah makan siang, mulailah prosesi penggantian sepatu. Aku masih teringat pesen temen teknisi tadi, “kalau dimungkinkan, gunakan tangan dan jari tangan untuk membuka dan memasang sepatu, gunakan cukit dan alat bantu jika terpaksa, agar tidak merusak kaki dan juga sepatunya”.

Dengan rasa penasaran dicampur debaran jantung yang terbungkus rasa was was, maka sepatu belakang mulai di eksekusi (karena baru kali ini aku akan mencoba memasang sepatu dengan harga yang gak terlalu mahal, jadi wajar dong kalo sedikit grogi…..). Setelah kaki terlepas dan tekanan angin dihabiskan, maka dengan bacaan Basmalah, sepatu yang lama ini resmi aku buka……horeeeee….plokkkkk….plok…..plokkkkk…..

Dugaan terjadi penyulit dalam proses pelepasan sepatu si Extry ternyata tidak terjadi, 180 derajat berbalik arah. Benar juga kata temen aku tadi, tanpa cukitpun bisa melepas sepatu yang lama. Trus, masangnya gimana? Wahhhhh….ternyata jauh lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan gajah (kan gajah gak punya tangan).

Gak sampai 1 jam, prosesi penggantian kedua sepatu sudah selesai (aku anggap ini sudah termasuk cepat untuk kelas amatir seperti aku ini).

Ini dia penampakannya si Extry setelah ganti sepatu

 
Saatnya soft test.

Hasilnya….. mak nyuss……

Saking semangatnya waktu soft test, sampai sampai jalanan aspal sekitar rumah yang  tinggal jalanannya aja (aspalnya gak tau pada kemana, mungkin pada lari karena sering terlindas dan tertindas) terasa lebih halus dan mulus. Tiba tiba………..ide brilliant muncul, kalau seperti ini kurang menantang, percuma dong memakai sepatu baru dengan spek high end tetapi cuma dipakai dijalanan saja. Pikiranku mulai loading…..

Aha….tetangga sebelah kan ada yang membangun rumah, tetapi sementara ini masih dalam proses pending, nahhh…..pasti disitu banyak bahan material yang gak kepakai, wah…..asyik tu kalo bisa buat injak injakan, pasti serasa terapi pijat kaki. Benar juga, onggokan batu coral dan pecahan batu bata terhampar dan melambai lambai minta dipijit. Dengan secepat kilat si Extry dengan sepatu barunya sudah berada di atasnya, wow kerennnn……

Akhir kata, terimaksih kepada semua pihak yang telah mendukung prosesi ini, dan maaf pak XXXXX (nama tetanggaku), mungkin ada beberapa batu yang masih berserakan dan maaf juga jika batu batanya yang dah hancur malah semakin lebur gara gara tingkah polah si Extry, maaf….maaf….

Insya Allah bersambung DI SINI

Kamis, 03 Mei 2012

Anatomi Sepeda Gunung | Sekilas Info

Banyak orang pernah bahkan sering menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi, rekreasi, olahraga, bekerja atau bahkan sekedar  mejeng saja.

Tetapi masih banyak diantara kita yang belum mengenal anatomi atau nama-nama bagian komponen dari sepeda itu sendiri. Anatomi sepeda perlu kita ketahui, agar saat kita menunjuk pada bagian tersebut kita tidak salah kata atau bahkan salah sebut dengan bagian yang lain. Suatu misal saat ada bagian dari sepeda kita yang perlu diganti, entah karena rusak atau karena alasan penampilan, maka jangan sampai saat kita sudah pergi ke toko sparepart, kita tidak tahu nama bagian yang akan kita ganti atau bahkan sampai salah sebut, bisa bisa penjualnya jadi kebingungan atau bahkan bikin malu jika ada orang yang mendengarnya. Jika kita sudah mengenal anatomi sepeda, maka dimanapun kita memerlukan penanganan (service, belanja sparepart dll) pada bagian tersebut, dijamin penjual atau tukang servicenya bisa langsung paham dengan maksud kita. Mungkin sebagian atau bahkan kebanyakan namanya agak asing ditelinga kita dan agak susah untuk diucapkan, tetapi itu ditujukan untuk menyamakan persepsi dan sudah dipakai di tingkat internasional.



Anatomi sepeda MTB

 
Handle Bar
Lebih dikenal dengan stang kemudi, pada MTB ada beberapa jenis Monkey bar, Rise bar dan Standart bar. Handle bar adalah kokpit sepeda kita, kontrol gigi transmisi, rem depan-belakang terdapat di handlebar ini. Pilihlah handle bar yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Top Tube
Merupakan bagian dari frame sepeda bagian atas, Tips: Sesuaikan ukuran frame dengan tubuh anda

Down Tube
Merupakan bagian dari frame sepeda, melitang dari HeadSet terhubung langsung dengan top Tube Seat, Stay dan Rumah BB (buttom Bracket)

Shifter
Grupsets (komponen) pemindah gigi tranmisi, berfungsi untuk menggerakan FD (front derailleur) dan RD (rear derailleur), Shifter yang beredar dipasaran untuk penggerak RD mencapai 9 – 10 speed, untuk Shifter FD biasanya hanya terdiri 2 – 3 speed.

Handgrip
Adalah pembungkus Handlebar (stang kemudi) berbahan karet/tape tergantung kebutuhan. Usahakan Handgrip tidak berputar pada handlebar saat kita berkendara, handgrip yang terlalu tebal atau terlalu tipis mengurangi kenyamanan kita dalam bersepeda.

Brake Lever
Tuas Rem (depan-belakang) posisikan Brake laver dengan benar sesuaikan dengan kenyamaan anda ketika bersepeda, usahakan jari tangan dapat meraih dengan mudah lever (tuas).

HeadSet
Bagian depan Frame yang didalamnya terdapat bearing dan komponen lainnya yang berfungsi untuk menghubungkan Fork(suspensi) depan dengan stem dan handlebar.

Stem
Merupakan bagian kokpit sepeda kita, berfungsi untuk menghubungkan handle bar – Headset dan Fork(suspensi) depan. Stem tersedia dalam beberapa ukuran untuk suspensi depan yang panjang (long travel) bentuk stem berbeda dengan stem standart, Tips: jika anda merasa stem anda terlalu panjang dan kita bersepeda terasa membungkuk anda bisa menggantinya dengan ukuran stem yang pendek.

Sadle
Sadel – tempat duduk pengemudi, untuk sepeda MTB biasanya berukuran lebih tebal dibandingkan dengan roadbike. Atur posisi Sadel supaya benar-benar lurus (horizontal), atur maju dan mundurnya sandel usahakan tidak terlalu jauh atau terlalu dekat dengan hadle bar.
Posisi yang tidak tepat akan mengakibatkan tidak nyaman kitika bersepeda pada kasus serius mengakibatkan cidera pinggang.

SeatPost
Dudukan Sadel (sadle) penghubung antara sadel dengan frame sepeda, posisi vertikal sesuaikan dengan kenyamanan anda. Tips:cobalah naik sepeda pada posisi berhenti, luruskan kaki anda hingga benar2 meraih pedal. Jika posisi kaki masih terlihat dan dirasa masih tidak lurus padahal posisi pedal sudah dibawah hal ini pertanda bahwa seatpost anda kurang tinggi. Aturlah seatpost hingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan anda.

Seat Stay
Merupakan bagian belakang frame. Untuk MTB dual suspension Seat Stay biasanya berupa swingarms (lengan ayun) terhubung dengan frame menggunakan suspensi belakang.

Pedals
Kayuhan. Merupakan komponen memutar Buttom Bracket dan Crankset sehingga sepeda bisa bergerak (digerakan ketika kita mengayuh sepeda).

Crank Set
Komponen lengan yang menghubungkan pedals dengan chainrings.

Chain Ring
Merupakan komponen tranmisi gigi depan (biasanya terdiri dari 2 -3 Chain Rings). Berfungsi menghubungkan rantai dengan Crankset.

Chain
Rantai. Merupakan komponen yang sangat vital fungsinya karena inilah yang bertugas menghubungkan Crankset Chain Ring dengan komponen Roda belakang, sehingga sepeda dapat melaju.

Idler Pulley
Merupakan bagian dari Rear Derailleur (RD), berupa gir (gigi) kecil disertai tension (biasanya berupa per-pegas) yang berfungsi agar chain (rantai) tetep lurus dan tidak kendor.

Front Derailleur
Merupakan komponen vital pada sepeda MTB, berfungsi mengatur pemindahan gigi depan (chain rings). Lebih dikenal dengan istilah FD, terhubung langsung dengan Shifter.

Rear Derailleur
Merupakan komponen vital pada sepeda MTB, berfungsi mengatur pemindahan gigi belakang. Lebih dikenal dengan istilah RD, terhubung langsung dengan Shifter.

Rims
Merupakan komponen Wheelset (roda) lebih di kenal dengan Pelak (pelek) sepeda.

Tire
Ban. Terbuat dari karet, Tips:sesuaikan jenis dan ukuran ban dengan kebutuhan anda. Ukuran ban untuk jenis aspal (road) biasanya tapak kecil dan motif standart. Untuk ada yang menggemari offroad atau bahkan downhill pilihlah jenis ban dengan tapak lebar dan motif khusus full offroad.

Front Fork
Suspensi depan, Merupakan bagian sepeda yang berfungsi menghubungkan roda (whellset) depan dengan kemudi (handlebar). Fork yang beredar di pasaran tersedia berbagai jenis, merek dan ukuran. Tips:sesuaikanlah jenis dan ukuran fork dengan kebutuhan anda, untuk medan aspal gunakan fork dengan panjang travel standart, sedangkan untuk penggemar downhill biasanya menggunakan travel yang panjang.

Master Discbrake
Merupakan komponen Brake (rem), merupakan rumah bagi kampas rem. Komponen ini berfungsi untuk menjepit discbrake ketika kita melakukan pengereman.
Untuk jenis Brake konvensional (V-brake) komponen ini tidak ada fungsinya digantikan oleh brakepad.

Dis
cBrake
Cakram, berupa piringan terhubung langsung dengan wheelset baik depan atau belakang. Untuk jenis V-brake komponen ini tidak ada.

Spokes
Jari-jari Roda, menghubungkan Hub dengan Rims (pelak).

Hub
Terletak ditengah roda disinilah jari-jari dan Rims (pelak) terhubung. Komponen didalamnya terdapat bearing (gotri).

Semoga informasi tentang anatomi sepeda ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua, terutama para pengguna alat transportasi bebas polusi ini.

Maju terus para bikers


 Dari berbagai sumber

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan | Sekilas Info


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 2009
TENTANG
LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

Penggunaan dan Perlengkapan Jalan
Pasal 25
(1)     Setiap Jalan yang digunakan untuk Lalu Lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan Jalan berupa:
a.     ......
b.    ......
c.     ......
d.    ......
e.     ......
f.     ......
g.    fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat; dan
h.    ......

Bagian Keenam
Fasilitas Pendukung
Pasal 45
(1)     Fasilitas pendukung penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan meliputi:

a.    ......
b.    lajur sepeda;
c.    ......
d.   ......

Bagian Keenam
Kendaraan Tidak Bermotor
Pasal 62
(1)     Pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda.
(2)     Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.

Pasal 106
(1)     ......
(2)     Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki dan pesepeda.
(3)     ......
(4)     ......
(5)     ......
(6)     ......
(7)     ......
(8)     ......
(9)     ......

Paragraf 8
Kendaraan Tidak Bermotor
Pasal 122
(1)     Pengendara Kendaraan Tidak Bermotor dilarang:
a.    dengan sengaja membiarkan kendaraannya ditarik oleh Kendaraan Bermotor dengan kecepatan yang dapat membahayakan keselamatan;
b.    mengangkut atau menarik benda yang dapat merintangi atau membahayakan Pengguna Jalan lain; dan/atau
c.    menggunakan jalur jalan Kendaraan Bermotor jika telah disediakan jalur jalan khusus bagi Kendaraan Tidak Bermotor.
(2)     Pesepeda dilarang membawa Penumpang, kecuali jika sepeda tersebut telah dilengkapi dengan tempat Penumpang.
(3)     ......

Pasal 123
Pesepeda tunarungu harus menggunakan tanda pengenal yang ditempatkan pada bagian depan dan belakang sepedanya.

Paragraf 2
Penggolongan dan Penanganan Perkara Kecelakaan Lalu Lintas
Pasal 229
(1)    Kecelakaan Lalu Lintas digolongkan atas:
a. Kecelakaan Lalu Lintas ringan;
b. Kecelakaan Lalu Lintas sedang; atau
c. Kecelakaan Lalu Lintas berat.
(2)    Kecelakaan Lalu Lintas ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.
(3)    Kecelakaan Lalu Lintas sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.
(4)   Kecelakaan Lalu Lintas berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat.
(5)   Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disebabkan oleh kelalaian Pengguna Jalan, ketidaklaikan Kendaraan, serta ketidaklaikan Jalan dan/atau lingkungan.

Pasal 284
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Pasal 310
(1)   Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).
(2)   Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).
(3)   Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
(4)    Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Pasal 311
(1)    Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
(2)    Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah).
(3)    Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah).
(4)   Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).
(5)   Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

Pasal 312
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang terlibat Kecelakaan Lalu Lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan Kecelakaan Lalu Lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 231 ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c tanpa alasan yang patut dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).

Pasal 326
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


Disahkan di Jakarta
pada tanggal 22 Juni 2009

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO


Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 22 Juni 2009

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

Ttd

ANDI MATTALATTA




Versi lengkap bisa anda lihat di SINI